SANITASI DAN
PENGOLAHAN LIMBAH PADA PROSES PRODUKSI WINE
DI CV. KAYUBATU
I. PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Dilihat pada saat ini daya tarik
konsumsi terhadap buah-buahan lokal Indonesia mengalami penurunan akibat
tersaingi dengan adanya buah-buahan impor. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu
adanya suatu tindakan yang mampu untuk mengembalikan daya saing buah-buahan
lokal tersebut. Salah satunya ialah pengolahan buah salak (Salacca edulis, Reinw) menjadi minuman wine. Pengolahan buah salak
menjadi wine merupakan salah satu alternatif untuk mengawetkan dan
menganekaragamkan produk olahan dari buah salak, sehingga dapat menambah
variasi produk dari buah salak.
Buah
salak (Salacca edulis, Reinw) merupakan buah asli Indonesia yang cukup
dikenal masyarakat. Diantara jenis-jenis salak yang ada di Indonesia, salak
Bali merupakan salah satu jenis buah salak yang sangat digemari oleh
masyarakat, karena rasanya manis, daging buahnya tebal berwarna kuning, bijinya
kecil dan mempunyai sisik yang kecil-kecil pada kulit buahnya (Tjahjadi, 1989).
Wine adalah
minuman yang populer di banyak negara. Negara-negara yang penduduknya meminum wine
paling banyak (menggunakan data tahun 2000)
adalah : Prancis, Italia, Amerika Serikat, Spanyol, Argentina, Britania Raya,
Republik Rakyat Cina, Rusia, dan Rumania. Jika tolak ukur angka yang digunakan
per orang atau perkapita daftar tersebut menjadi Luxemburg, Prancis, Italia,
Portugal, Kroasia, Swiss, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Slovenia.
Perusahaan
Kayubatu yang terletak di Tabanan, Bali merupakan salah satu
perusahaan terbesar di kawasan Asia Tenggara yang bergerak di bidang pembuatan
wine baik untuk kebutuhan dalam maupun luar negeri. Dalam satu hari mampu
memproduksi wine sekitar 5500 ton. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, maka
perusahaan ini harus mengikuti perkembangan teknologi yang ada pada saat ini.
Untuk itu semakin sering digunakan berbagai alat manufaktur yang non
konvensional. Pada perusahaan ini, dalam segala proses produksi menggunakan
teknologi tingkat tinggi dengan alat–alat yang modern. Perusahaan ini
mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa. (Angga, 2011)
Terdapat
enam jenis buah-buahan yang diolah di pabrik ini untuk
dijadikan minuman berupa wine yaitu buah anggur, salak,
sirsak, stroberry, jambu mente dan minuman berbahan baku jahe.
Proses mengolah
buah-buahan tersebut hingga menjadi minuman wine membutuhkan
proses fermentasi dan waktu yang cukup lama, bahkan hingga setahun lebih. Hal
itu untuk memperoleh rasa wine yang berkualitas serta enak untuk
diminum. ''Makin lama didiamkan setelah selesai fermentasi rasanya akan lebih
enak. Harus dicek tiap minggu, hingga kandungan alkohol mencapai 12 persen.
Begitu pula dengan temperatur dan kelembaban udara tempat dilakukannya
fermentasi harus juga dipantau. Kriteria suhu harus mencapai 22 derajat, kalau
lebih tidak boleh sebab akan mempengaruhi rasa serta proses produksi
minuman wine . Dalam proses fermentasi yang dikontrol juga
jenis ragi. Wine membutuhkan ragi khusus, karena ragilah
penggerak utama fermentasi.
Praktek Kerja Lapang merupakan salah satu program yang digunakan
untuk dapat mendalami dan memerapkan lebih jauh mengenai teori yang didapat di
bangku kuliah ke lapangan langsung. Dan juga mendapatkan pengalaman –
pengalaman yang menunjang ketika memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. CV. Kayubatu,
Bali merupakan salah satu pilihan perusahaan yang mampu memberikan tambahan
wawasan, pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian
mengenai bagaimana cara proses pembuatan wine secara langsung.
Sehingga, dengan dilakukannya praktek
kerja lapang (PKL) di CV.
Kayubatu, Bali, perusahaan yang bergerak di bidang produksi wine, diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai
teknologi dan proses dalam pembuatan wine dari bahan baku salak.
2.
Tujuan
2.1.
Tujuan umum
1.
Sebagai sarana
studi banding antara ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan
teknologi yang diterapkan di lapang.
2.
Melatih mahasiswa untuk bekerja
mandiri di lapang sekaligus berlatih untuk menyesuaikan diri dengan kondisi
dilapang pekerjaan yang nantinya akan ditekuni.
3.
Memenuhi salah
satu persyaratan untuk menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat sarjana S1 di
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.
4.
Menambah
Pengalaman dan Pengetahuan mahasiswa mengenai kondisi nyata di lingkungan kerja
serta mengetahui permasalahan-permasalahan beserta alternatif penyelesaiannya.
2.2.
Tujuan khusus
Mengetahui
dan mempelajari secara langsung tentang :
1. Sanitasi pada proses pengolahan wine di CV.
Kayubatu.
2. Pengolahan
limbah pada
proses pembuatan wine di CV.
Kayubatu, Tabanan-Bali.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Wine
Wine adalah
minuman beralkohol rendah yang biasanya dibuat dari jus anggur yang
difermentasi. Sifat Keseimbangan alami yang terkandung pada buah anggur,
menyebabkan buah tersebut dapat difermentasi tanpa penambahan gula, asam, enzim,
ataupun nutrisi lain. Wine dibuat dengan cara memfermentasi jus buah anggur
menggunakan khamir dari type tertentu. Yeast tersebut akan mengkonsumsi
kandungan gula yang ada pada buah anggur dan mengubahnya menjadi alcohol.
Perbedaan varietas anggur dan strain khamir yang digunakan, tergantung pada
type dari wine yang akan diproduksi (Johnson, 1989).
Kebanyakan produk wine dibuat
menggunakan bahan baku utama yaitu buah anggur, minuman wine juga dapat dibuat
dari buah-buahan lain yang banyak mengandung gula, seperti salak, apel, jambu
mete, lengkeng, ataupun nanas. Penamaan minuman anggur atau wine yang
dibuat dari selain buah anggur biasanya menyertakan nama buah yang digunakan,
seperti wine salak, apel, ataupun wine jambu mete dan secara umum disebut
dengan Fruity wine. Sedangkan jika
wine terbuat dari bahan pangan yang mengandung pati, seperti beras dan gandum,
maka wine tersebut lebih dikenal dengan istilah minuman Sake (barley wine atau rice wine). (Allen,
2008).
2. Teknologi Pengolahan
Wine
Teknik
pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan oleh bangsa Mesir pada
tahun 2500 sebelum Masehi. Kemudian teknologi pengolahan anggur masuk ke
Yunani dan ke daerah Laut Hitam sampai ke Spanyol, Jerman, Prancis, dan
Austria. Seiring dengan perjalanan Columbus teknologi pengolahan dan
budidaya anggur mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika Selatan, Asia
termasuk Indonesia, dan Australia. (Wahyu, 2004).
2.1.
Bahan Produksi
Salak
(Salacca edulis, Reinw) Bali merupakan bahan baku pembuatan wine salak.
Berikut ini adalah jenis salak yang digunakan dalam pembuatan wine:
- Buahnya berbentuk bulat
lonjong.
- Kulit buahnya bersisik kecil,
cenderung kasar dan berwarna coklat kehitaman.
- Daging buahnya tebal dan
berwarna putih kekuningan.
- Bijinya juga kecil-kecil dan
biasanya berjumlah 1-2 pada setiap buah.
- Ukuran buah salak bali relatif
kecil namun rasanya manis.
Tabel Kandungan Buah Salak
Bali :
Kandungan
|
Prosentase
|
Vitamin C
|
31,92 %
|
Karbohidrat
|
21,35 %
|
Protein
|
0,97 %
|
Lemak
|
0,17 %
|
Kadar Air
|
76,67 %
|
2.2. Jenis mikroba
Khamir yang biasa dan banyak digunakan untuk
fermentasi buah anggur adalah Sacharomyces
cerevisiae dari varietas ellipsoideus
Sacharomyces cerevisiae varietas ellipsoideus biasa digunakan untuk
fermentasi buah anggur karena khamir jenis ini mempunyai sifat yang dapat
mengadakan fermentasi pada suhu yang agak tinggi yaitu 300C. Selain
itu dapat menghasilkan alkohol cukup tinggi yaitu 18 – 20 % (y/y). khamir jenis
ini juga dapat memfermentasi beberapa macam gula diantaranya sukrosa, glukosa, fruktosa, galaktosa dan
maltotriosa. Taksonomi Sacharomyces cerevisiae adalah sebagai
berikut :
Divisi : Eumycophyta
Kelas : Ascomycetes
Ordo : Sacharomycetales
Famili : Sacharomycetaceae
Genus : Sacharomyces
Species : Sacharomyces
cerevisiae
2.3.
Fermentasi wine
Fermentasi wine adalah proses dimana juice anggur bersama–sama dengan
bahan lain yang diubah secara reaksi bokimia oleh khamir dan menghasilkan wine.
Bahan untuk proses fermentasi adalah gula ditambah khamir yang akan
menghasilkan alkohol dan CO2. CO2 akan dilepaskan dari
campuran wine menuju udara dan alkohol akan tetap tinggal di fermentor. Jika
semua gula buah sudah diubah menjadi alkohol atau alkohol telah mencapai
sekitar 15% biasanya fermentasi telah selesai atau dihentikan. Pada proses
pembuatan wine terdapat tahapan–tahapan proses, yaitu :
1. Penghancuran dan Perlakuan Anggur Sebelum
Fermentasi
Proses
pertama kali yang dilakukan adalah menghancurkan anggur. Untuk wine putih kulit
dari anggur dihilangkan, sedangkan wine merah dihancurkan beserta kulitnya.
Setelah itu dilakukan pendinginan pada suhu 5 – 100C dalam waktu 24
– 48 jam dengan bantuan enzim pectinase untuk menghancurkan material anggur.
Fermentasi ini juga ditambah dengan SO2 kedalam cairan / jus buah
anggur dengan tujuan untuk mencegah browning selama penghancuran buah dan
menghambat aktivitas khamir lain yang tidak diinginkan.
2. Fermentasi Alkohol
Secara
tradisional fermentasi anggur dilakukan di dalam tangki kayu yang besar atau
tangki beton, tetapi kebanyakan wine modern sekarang menggunakan stainless
steel yang canggih dengan fasilitas pengontrol suhu, alat pembersih dan
lainnya. Anggur putih secara umum difermentasi pada suhu 10 – 210C
pada 7 – 14 hari atau lebih sedangkan anggur merah difermentasi antara 3 – 5
hari dengan suhu 24 – 270C. pada fermentasi ini yeast yang digunakan
Sacharomyces cerevisiae yang
diinokulasi dalam jus dengan populasi 106 – 107 cells/ml. Bahan–bahan yang
mengandung Monosakarida (glukosa) langsung dapat difermentasi.
3. Fermentasi Malolactic
Fermentasi
ini terjadi alami 2 – 3 minggu setelah fermentasi alkohol selesaidan berakhir 2
– 4 minggu. Reaksi ini mengubah dekarboksilasi L-malic acid menjadi L-lactic
acid dengan menurunkan kadar keasaman wine danmenaikkan pH antara 0,3 – 0,5.
Penurunan kadar keasaman dengan fermentasi ini membuat wine lebih lembut, rasa
yang matang dan rasa yang lebih menarik. Tidak semua jenis wine memerlukan
proses fermentasi malolactic.
4. Proses Setelah Fermentasi
Selama
fermentasi, dihasilkan cairan yang disebut “must”. Guna mencegah tumbuhnya
bakteri pada must maka dilakukan pengadukan. Senyawa volatile juga dihasilkan
dengan berbagai konsentrasi pada fermentasi anggur. Senyawa ini mempunyai peran
penting dalam sifat–sifat flavor dan sensoris. Aroma wine adalah hasil dari
kombinasi kompleks banyak komponen terutama senyawa volatile yang menjadi
penciri wine.
2.4.
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Fermentasi
Fermentasi
alkohol/wine dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung sehingga menjadi
wine yang berkualitas, diantaranya :
a.
Spesies sel khamir
Pemilihan
mikroorganisme biasanya didasarkan pada jenis karbohidrat yang digunakan
sebagai medium, sebagai contoh untuk memproduksi alkohol dari pati dan gula
digunakanSacharomyces cerevisiae sedangkan untuk
laktosa dari “whey” menggunakan Candida pseudotropicalis. Seleksi tersebut
bertujuan agar didapatkan mikroorganisme yang mampu tumbuh dengan cepat dan
toleransi terhadap konsentrasi yang tinggi, mampu mengahasilkan alkohol dalam
jumlah banyak dan tahan terhadap alkohol tersebut (Soeharto, 1986).
b.
Jumlah sel khamir
Inokulum
yaitu kultur mikroba yang diinokulasikan kedalam medium fermentasi. Tipe dan
kosentrasi mikroorganisme yang diinokulasikan merupakan “critical factor” yang
mempengaruhi (wood, 1998). Menurut Soeharto (1986), jumlah “starter” optimum
pada fermentasi alkohol adalah 2-5% serta jumlah khamir yang harus tersedia
dalam jumlah yang cukup dengan jumlah sel berkisar 2-5 . 106 sel
per ml.
c. Derajat
keasaman(pH)
Derajat
keasaman optimum untuk pertumbuhan khamir yang digunakan pada fermentasi etanol
adalah 4,5 – 5,5 (Prescott and Dunn, 2002). Sedangkan menurut Daulay dan Rahman
(1992), pada umumnya sel khamir dapat tumbuh dan memproduksi etanol secara
efisien pada pH 3,5 – 6,0.
d.
Suhu
Khamir
mempunyai kisaran toleransi tertentu terhadap suhu untuk pembentukan selnya,
optimum untuk khamir adalah 25 – 30 oC serta khamir dapat
tumbuh secara efesien pada suhu 28 – 35 oC. Peningkatan suhu
sampai 40 oC dapat mempertinggi kecepatan awal produksi etanol,
tetapi produktivitas fermentasi secara keseluruhan menurun karena meningkatnya
pengaruh penghambatan oleh etanol terhadap pertumbuhan sel khamir (Daulay dan
Rahman, 1992).
e.
Oksigen
Selama
fermentasi alkohol berlangsung, diperlukan sedikit oksigen yaitu sekitar
0,05-0,10 mmHg tekanan oksigen, yang diperlukan sel khamir untuk biosintesa
lemak tak jenuh dan lipid. Jumlah oksigen yang lebih tinggi dapat merangsang
pertumbuhan sel khamir, sehingga produktivitasnya alkohol menjadi lebih rendah.
Menurut Daulay dan Rahman (1992), persediaan oksigen yang besar penting untuk
kecepatan perkembangbiakan sel khamir dan permulaan fermentasi, namun produksi
alkohol terbaik pada kondisi an aerob.
2.5. Standart Mutu Bahan Baku
Standar yang ditetapkan dalam pemilihan buah-buahan untuk diolah
menjadi wine yang paling utama adalah
kadar gulanya, idealnya diharpkan berada pada kisaran 266 gram gula per liter ekstrak
buahnya untuk mendapatkan wine dengan
kadar alkohol ± 12% tanpa adanya penambahan gula dari luar. Selain itu buah
harus dalam keadaan masak optimal agar didapatkan kadar gula dan flavor khas buah yang optimal.
Pada dasarnya hampir semua buah dapat dibuat menjadi wine
terutama yang mengandung gula (15 – 18%). Bila kandungan gula pada buah kurang
atau tidak mencukupi, maka sering ditambahkan gula pada saat proses fermentasi
wine. Syarat medium yang baik untuk pembuatan wine, yaitu : (Anonymous, 2009).
Harus mempunyai kandungan nutrisi
tinggi
- Mempunyai
keasaman yang tinggi sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang
tidak diinginkan.
- Kandungan
gula cukup tinggi
- Mempunyai
aroma yang sedap
BAB III
METODE PELAKSANAAN
1. Waktu dan
Pelaksanaan
Praktek
Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan
di CV. KAYUBATU, TABANAN-BALI. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan mulai
tanggal 14 Januari 2013 sampai 14 Februari 2013.
2. Metode
Pelaksanaan
Bentuk
kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapang adalah:
1.
Riset
Lapang / Studi Lapang
Ø
Wawancara
Yaitu
meliputi proses tanya jawab kepada pihak terkait seperti staf perusahaan,
karyawan, dan pekerja lapang untuk memperoleh informasi yang diharapkan berkaitan
dengan proses produksi di CV. KAYUBATU
Ø Observasi
Yaitu mengamati, mempelajari dan memahami
proses produksi secara langsung
Ø
Pengumpulan
Data Sekunder
Yaitu berupa pengumpulan data-data
(kapasitas produksi, metode yang diterapkan, beberapa alternatif dalam
mengatasi masalah) yang merupakan data sekunder sebagai pelengkap atau
penunjang.
2.
Studi
literatur atau Riset Pustaka
Yaitu kegiatan pengumpulan data dan
informasi dari literatur buku atau internet yang berkaitan dengan pembuatan dan
pengolahan wine dari bahan baku salak (Salacca
edulis).
3. Aktivitas
Praktek Kerja Lapang
Aktivitas
yang dilakukan selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapang di CV KAYUBATU. BALI dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Aktivitas Kerja Lapang
IV. PROSES
PRODUKSI
1. Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan utama yang
diperlukan dalam suatu proses produksi agar dapat dihasilkan suatu produksi.
Bahan baku dapat berupa bahan alamiah maupun bahan setengah jadi yang akan
mengalami perubahan ciri dan bentuk. Proses pembuatan wine di CV. Kayubatu bahan baku yang digunakan adalah salak yang diolah untuk didapatkan
ekstrknya, ekstrak tersebut mengandung nutrisi yang digunakan oleh khamir untuk
tumbuh dan menghasilkan metabolit. Pada pembuatan wine metabolit paling utama adalah pembentukan etanol.
Standar yang ditetapkan dalam pemilihan buah-buahan untuk diolah
menjadi wine yang paling utama adalah
kadar gulanya, idealnya diharpkan berada pada kisaran 266 gram gula per liter
ekstrak buahnya untuk mendapatkan wine dengan
kadar alkohol ± 12% tanpa adanya penambahan gula dari luar. Selain itu buah
harus dalam keadaan masak optimal agar didapatkan kadar gula dan flavor khas buah yang optimal.
Produsen mengalami kesulitan dalam
mendapatkan bahan baku dengan kualitas dan standar yang diinginkan. Hal ini
dikarenakan petani-petani di Indonesia yang memperhatikan kuantitas dari buah
yang dipanen, oleh karena itu produsen perlu melakukan penyuluhan terhadap
petani tentang cara bertani yang benar supaya didapatkan hasil panen dengan
kualitas yang sesuai untuk pembuatan wine.
Buah salak yang dipergunakan untuk
membuat wine oleh CV. Kayubatu adalah salak bali. Salak yang berasal dari Bali
ini dikenal sebagai salak bali. Daging buahnya tebal, berwarna putih
kekuningan, dan jarang sekali yang masir. Rasanya istimewa, sangat manis dan
teksturnya renyah. Bijinya juga kecil-kecil dan biasanya berjumlah 1-2 pada
setiap buah. Ukuran buah salak bali relatif kecil.
Salak
ini punya sifat khas kleistogami yakni untuk terjadinya pembuahan dapat
dilakukan sendiri secara otomatis, tidak mmbutuhkan bantuan manusia. Bentuk
tanaman tegak dengan tinggi pohon lima sampai tujuh meter itu pada bagian
batangnya bulat-bulat bekas tangkai daun, sekaligus tempat munculnya buah.
Buah Salak Bali
mengandung energi sebesar 57 kilokalori, protein 0,5 gram, karbohidrat 13,6
gram, lemak 0,1 gram, kalsium 94 miligram, fosfor 25 miligram, dan zat besi 2,1
miligram. Selain itu di dalam Buah Salak Bali juga terkandung vitamin A
sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0,4 miligram. Hasil
tersebut didapat dari terhadap 100 gram Buah Salak Bali. (Handoyo, 2007)
2. Proses Pengolahan Wine Dari Buah Salak (Salacca
edulis)
Proses pengolahan adalah suatu metode dan teknik
untuk menciptakan atau memanfaatkan suatu barang atau jasa dengan memanfaatkan
sumber-sumber yang ada seperti mesin-mesin, bahan-bahan, modal atau dana, dan
tenaga kerja (Cornel, 1985).
Proses pengolahan dapat dibagi menjadi 2 bagian,
yaitu:
1.
Proses
kontinyu, yaitu proses produksi yang terus – menerus. Mesin dan peralatan
disiapkan dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa mengalami perubahan untuk
menghasilkan sutau produk. Proses berlangsung terus – menerus selama jenis
produk yang sama dikerjakan. Dalam proses ini terdapat jangka waktu yang
panjang tanpa adanya perubahan-perubahan dari pengaturan dan penggunaan mesin
dan peralatan.
2.
Proses batch, yaitu proses produksi yang
terputus-putus. Mesin dan peralatan dipersiapkan untuk menghasilkan barang atau
jasa dalam waktu pendek, kemudian dapat diubah atau dipersiapkan kembali untyuk
menghasilkan produk lain. Dalam hal ini proses yang dilakukan adalah terputus-putus
serta dibutuhkan jangka waktu yang pendek untuk mengatur mesin atau peralatan,
guna menghasilkan variasi produk.
Proses pengolahan yang digunakan oleh CV. Kayubatu
termasuk proses batch. Hal ini dapat
dilihat dari peralatan yang digunakan pada tiap tahapan proses yang satu dan
lainnya terpisah. Keuntungan dari proses batch ini adalah produk wine yang dihasilkan oleh CV. Kayubatu
dapat bervariasi.
Produk yang dihasilkan oleh CV. Kayubatu cukup
bervariasi, diantaranya yang paling banyak diproduksi ialah wine salak, red wine, rose wine, ginger wine. Perbedaan dari
masing-masing pembuatan wine ini terletak pada tahap maceration, dimana lama
tahap ini tergantung dari bahan baku buah yang digunakan dan tujuan dari proses
maceration tersebut.
Proses pembuatan wine
secara umum terdiri atas beberapa tahap, yaitu tahap perlakuan pendahuluan pada
bahan baku seperti sortasi, pencucian, penghiangan bagian buah yang tidak
didinginkan (tergantung dari bahan baku yang digunakan, seperti buah anggur,
dilakukan destemming (pemisahan buah
dari batang), sedangkan untuk buah salak bagian yang dihilangkan yaitu kulit
dan biji), tahap pengolahan lebih lanjut hingga menjadi wine, meliputi: penghancuran (crushing),
pengepresan untuk mendapat filtrat (pressing),
inokulasi starter, maceration, fermentasi, penjernihan (racking), penyaringan (filtering), dan tahap pengemasan dalam botol meliputi pembotolan
labeling, dan pemberian segel. Rumus biokimia pembuatan wine adalah sebagai berikut :
Salak + {Ragi + (CH3COOH) + Gula (C6H12O6)} à Wine
|
Kebun
|
DIAGRAM ALIR PROSES PEMBUATAN WINE
|
Receiving
|
|
Tangkai, Kotoran Buah
|
|
Cleaning
|
|
Air Kotoran
|
|
-
Buah
yang terpilih
|
|
Buah Salak
|
|
-
Buah
Salak
|
|
Sortasi
|
|
Kulit dan biji
|
|
Cacahan Buah yang Terceceracahan
Buah yang Tercecer
|
|
-
Daging
Buah Salak
|
|
Penghancuran
|
-
Ditambah
air dengan perbandingan
buah : air = 1 : 1
|
Didiamkan 3 hari
|
|
Di Pressing
|
|
Ampas
|
|
-
Sari
buah salak
|
|
Mixing
|
-
Ditambahkan Gula
-
|
Ampas Padat
|
Ditambahkan ragi
|
Fermentasi dan Pengendapan
|
|
Ampas halus
|
|
Filtrasi
|
Filterisasi 900
Kalman
2-3 bulan
Filterisasi 700
Kalman
2-3 bulan
Filterisasi 300
Kalman
2-3 bulan
Filterisasi 100
Kalman
2-3 bulan
Filterisasi Inverse
2-3 bulan
Filterisasi 1 Kalman
2-3 bulan
-
|
Botol Cacat, Tutup Botol Cacat, Air
Sisa
|
|
Bottling
|
Tes Kadar
Alkohol 12% / minggu
|
Labeling
|
|
Kertas, Lem, Kardus
|
|
Wine Salak
|
Gambar 4.1. Diagram alir Proses Produksi Wine Dari Buah Salak (Salacca
edulis)
2.1. Kebun
Bahan baku yang digunakan
oleh CV. Kayubatu ini berasal dari perkebunan yang berada di daerah Tabanan,
Bali. Perkebunan ini dikelola oleh petani setempat. Pengambilan salak ini
berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan untuk
menghasilkan kualitas wine yang
terbaik.
2.2. Buah
Salak
Salak (Salacca edulis,
Reinw) Bali merupakan bahan baku pembuatan wine salak. Berikut ini adalah jenis
salak yang digunakan dalam pembuatan wine:
- Buahnya berbentuk bulat
lonjong.
- Kulit buahnya bersisik
kecil dan berwarna kuning agak cokelat.
- Daging buahnya tebal dan
berwarna putih kekuningan.
- Bijinya juga kecil-kecil
dan biasanya berjumlah 1-2 pada setiap buah.
- Ukuran buah salak bali
relatif kecil.
- Buah salak Bali mengandung Vitamin C 31,
92%; karbohidrat 21,35%; Protein 0,97%; Lemak 0,17% dan kadar air adalah
sebesar 76,67%. (Handoyo, 2007)
2.3. Recieving
Memisahkan tangkai buah dan
kotoran yang menempel pada kulit buah dari buah, sehingga menghasilkan buah
salak yang bersih. Limbah yang dihasilkan tangkai dan kotoran buah salak
2.4. Sortasi
dan Pengupasan
Memisahkan antara kulit dan
biji buah salak sehingga hanya tersisa daging buah saja. Limbah yang dihasilkan
kulit dan biji buah salak.
2.5. Penghancuran
Daging buah salak dihancurkan
dengan cara di blender dan kemudian ditambahkan air dengan perbandingan daging
buah salak (kg) : air (L) = 1 : 1. Limbah yang dihasilkan yaitu berupa cacahan
atau serpihan buah salak.
2.6. Didiamkan
Proses ini berlangsung selama
3 hari yang bertujuan untuk melunakkan daging buah salak agar mudah dalam
proses pemerasan (pressing).
2.7. Pressing
Daging buah salak yang telah
lunak di peras (press) dengan mengunakan alat pengepres sehingga dihasilkan
sari buah salak. Limbah yang dihasilkan berupa ampas hasil perasan.
2.8. Mixing
Merupakan proses pencampuran
sari buah salak dengan gula dan ragi (starter). Penambahan starter memiliki
volume 5 L starter digunakan untuk 1 ton buah salak. Berat gula total yang
ditambahkan sebesar 26% dari jumlah bersih bahan baku awal. Penambahan gula
pada proses ini sebesar 50% dari berat total gula yang ditambahkan. Hal ini
bertujuan untuk memaksimalkan kinerja ragi
2.9. Fermentasi
Awal
Pada proses fermentasi tahap
awal yang dilakukan adalah memindahkan sari buah salak yang telah di mixing
dengan gula dan ragi (Saccharomyces
cerevisiae) ke dalam drum fermentor. Penambahan 50% gula selanjutnya
dilakukan 1 minggu setelah tahapan ini. Gula tersebut berfungsi sebagai bahan
konsumsi ragi dalam mensintesa glukosa untuk menjadi alkohol. Pada tahapan ini
juga ditambahkan asam sitrat sebesar 400 gram, yang bertujuan untuk memberikan
kondisi asam (pH 4,2) pada proses fermentasi. Suhu yang diperlukan pada proses
fermentasi yaitu 18o C (konstan) dan kondisi tekanan O2 sebesar
0,05 – 0,10 mmhg. Pencahayaan saat proses fermentasi dalam kondisi gelap.
Proses ini berlangsung dalam jangka waktu 6 bulan.
2.10. Pencampuran
dan Pengendapan
Tahapan ini dilakukan setelah
proses fermentasi untuk mencampur antara
drum satu dan lainnya untuk dijadikan menjadi satu drum. dikarenakan
keterbatasan alat produksi.
2.11. Test
Kadar Alkohol
Hal ini dilakukan 1 minggu
sekali selama proses fermentasi hingga tahap bottling. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui kadar alkohol yang terkandung dalam wine. Kadar alkohol yang
diharapkan pada akhir fermentasi sebesar 12%.
2.12. Filtrasi
Filtrasi terdiri dari 6
tahapan, yang terdiri dari Filterisasi 900, Filterisasi 700, Filterisasi 300,
Filterisasi 100, Filterisasi I, Filterisasi K. hal ini dilakukan selama 2-3
bulan dalam masing-masing tahapan, dikarenakan dalam jangka waktu tersebut
dihasilkan sisa dari fermentasi berupa endapan.
2.13. Pengadukan
Dilakukan 1 hari sekali untuk
memaksimalkan proses fermentasi karena ragi yang digunakan termasuk bakteri
permukaan, sehingga nutrient yang terdapat di bagian bawah menjadi terangkat.
Pengadukan juga berfungsi untuk menghindari timbulnya must yang menjadi tempat
tumbuhnya bakteri yang tidak diinginkan.
2.14. Bottling
Pada tahapan ini dilakukan
pencucian dan penyortiran terhadap botol. Sehingga didapatkan botol yang layak
untuk dijadikan pengemas. Limbah yang dihasilkan dalam tahapan ini adalah botol
cacat.
2.15. Pengisian
Pada tahapan ini dilakukan
proses pengisian wine yang telah siap panen ke dalam botol. Wine yang siap
panen adalah wine dengan kadar alkohol 12%, gula 50-60 brix, pH 4,5-4,7. Dalam
setiap botol di isi wine sebanyak 750 ml.
2.16. Pengemasan
dan Labeling
Pada tahap ini dilakukan
penyortiran tutup botol dan kertas label/brand,
agar dihasilkan tutup dan kertas label yang layak. botol yang telah berisi wine
ditutup menggunakan alat penutup. Selanjutnya dilakukan proses labelling secara manual (Salacca Wine).
2.17. Packing
Pada tahapan ini botol yang
telah di labelling dimasukkan dalam
kardus yang berisi 12 slot tiap kardus.
2.18. Penyimpanan
Kardus yang telah berisi 12
botol wine dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan untuk menunggu pemasaran.
Kondisi ruang penyimpanan bersuhu 220 C dan gelap. Kondisi ruang
penyimpanan harus stabil karena flavour
wine sangat sensitive oleh perubahan
suhu dan cahaya.
2.3. Bahan Pengemas dan Metode
Pengemasan
2.3.1. Bahan Pengemas
1.
Botol
Botol yang
digunakan berasal dari botol-botol bekas wine yang diperoleh dari pemasok
botol, atau dari catering penerbangan
internasional dengankisaran harga Rp. 400,00 – Rp. 1000,00 per botol.
2.
Tutup Botol
Ulir
Tutup botol
ulir adalah tutup botol yang cara membuka dan menutupnya dengan cara diulir.
Tutup ini lebih efektif untuk menghindari kontak langsung dengan bakteri dari
luar botol.
3.
Segel
Segel yang dipergunakan diimpor dari
Jerman. Segel ini terbuat dari plastic peka panas, sehingga sewaktu terkena
udara panas plastic tersebut mengkerut mengikuti bentuk ujung botol.
4.
Label
Label yang dipergunakan yaitu label kertas
yang ditempel manual oleh pekerja pada botol wine. Harga untuk label kertas
tersebut adalah Rp. 3000,00.
5.
Kardus
Kardus yang digunakan yaitu kardus karton.
Kapasitas kardus karton adalah 12 botol wine.
2.3.2.
Metode Pengemasan
Setelah
semua proses pembuatan wine selesai kemudian wine yang sudah siap kemas
dimasukkan kedalam tangki khusus yang sudah diberi kran-kran untuk pengisian
wine ke dalam botol. Setelah proses pembotolan, botol ditutup menggunakan tutup
botol ulir.
Wine yang
telah ditutup, diberi label dengan cara manual oleh pekerja. Kertas label ini
dicelupkan kedalam air dan diberi lem khusus untuk ditempelkan pada dinding
botol sesuai dengan wine yang dikemas. Setelah itu wine dimasukkan kedalam
kardus karton yang berisi 15 botol wine. Wine-wine tersebut disimpan dalam
gudang penyimpanan yang diatur suhunya sebesar 22°C. pengaturan suhu
menggunakan air conditioner yang beroperasi selama 24 jam.
2.4. Spesifikasi Mesin dan Peralatan
Mesin dan
oeralatan tertentu dalam suatu industri diperlukan untuk mendukung proses
produksi. Demikian juga dalam industri pengolahan pangan dibutuhkan suatu mesin
dan peralatan yang dapat mempermudah dan mempercepat proses pengolahan.
Peralatan merupakan alat-alat yang digunakan untuk membantu meringankan
pekerjaan manusia sedangkan mesin merupakan suatu instrument yang digerakkan
oleh motor dengan menggunakan tenaga listrik, tenaga air, tenaga surya dan
sebagainya yang digunakan untuk membantu kelancaran proses produksi.
Peralatan
dan mesin yang digunakan di CV. Kayubatu mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
Macam, Jumlah, dan Spesifikasi
Mesin
1.
Pengepres
Buah
Fungsi : Untuk mendapatkan jus buah.
Jumlah : 2
Dimensi : tinggi (1,57 m) × panjang (0,76 m) × lebar (0,74 m)
Material : Kayu
Prinsip : Alat ini terdiri atas lima bagian utama yaitu meja
menampung jus, tong pengepres, tutup tong, dongkrak hidrolik, dan lempengan
besi.
Bahan baku yang telah mengalami perlakuan
pendahuluan dimasukan ke dalam tong kemudian ditutup, dongkrak dipasang di atas
tutup dan dipompa sampai lempengan besi terangkat keatas. Lempengan besi dapat
memberikan gaya takanan kebawah yang memberikan tekanan pada buah sehingga buah
hancur dan jus keluar dari buah. Proses ini diulangi sampai cairan buah
terkstrak keluar secara maksimal.
2.
Pompa
Fungsi :Memindahkan wine dari 1 tangki ke tangki lain pada saat
racking.
Jumlah : 1
Merk : Heissner
Daya : 100 W
Kapasitas : 6000 L/jam
3.
Tangki
Fermentasi
Fungsi : sebagai tempat fermentasi.
Jumlah : 14 buah tangki yang terdiri dari 8 buah tangki yang
berukuran 700 liter, 3 buah tangki berukuran 320 liter, dan 2 buah tangki
berukuran 250, dan 1 tangki berukuran 250 yang sudah dipasang kran-kran untuk
proses bottling.
Merk : Polo, Handal, Aqua, Mega
Bintang.
Dimensi : - Tangki 250 liter: tinggi (1 m) × diameter (0,53 m)
-
Tangki 320
liter: tinggi (0,8 m) × diameter (0,68 m)
-
Tangki 700
liter: tinggi (1,1 m) × diameter (0,84 m)
Material : plastik
Kapasitas :
- Tangki 250 liter: 188 liter
- Tangki
320 liter: 240 liter
- Tangki
700 liter: 525 liter
4.
Air
Conditioner (AC)
Fungsi :
Menciptakan suhu lingkungan proses fermentasi dan penyimpanan pada suhu 22°C.
Jumlah : 2 buah
Merk :
Akira
Daya :
220-230 Volt
Kapasitas pendinginan : 1000 Btu/hour
5.
Portabel
Refractometer
Fungsi : Mengetahui kadar gula
Jumlah : 1 buah
Merk : KeBa
6.
pH meter
Fungsi : Mengetahui pH juice
Jumlah : 1 buah
Merk : Pocket pH meter ad 110 pH
2.5. Pengendalian Mutu
Pengendalian
mutu sangat penting dalam rangkaian proses produksi karena menyangkut tingkat
penerimaan konsumen terhadap hasil produk dari proses tersebut. Pengendalian
mutu itu sendiri merupakan suatu aktivitas untuk menjaga dan mengarahkan agar
kualitas produk dapat dipertahankan sebagaimana direncanakan.
Pada
perusahaan wine CV. Kayubatu,
kegiatan pengendalian mutu yang dilakukan meliputi :
1. Pengendalian
mutu bahan baku dan bahan pembantu.
2. Pengendalian
selama proses produksi.
3. Pengendalian
mutu produk akhir.
1.
Pengendalian
Mutu Bahan Baku dan Bahan Pembantu
Pengendalian
mutu bahan baku dan bahan pembantu perlu dilakukan karena mempunyai pengaruh
pada produk akhir. Pengendalian mutu untuk bahan baku dan bahan pembantu
dilakukan dengan cara :
1. Pemilihan
buah-buahan yang matang optimal, dinilai secara organoleptic meliputi bau dan
warna. Pengujian juga dilakukan dengan instrumen, yaitu refraktometer portabel
untuk mengetahui kadar gula buah bila kurang dari 266 gram per liter filtrat
dilakukan proses penambahan gula (Chaptalization).
Selain matang optimal, floavor buah tajam, secara sensori warna dan rasa tidak
menyimpang, buah yang digunakan tidak boleh busuk atau cacat karena kerusakan
mekanis atau mikroorganisme.
2. Gula
yang digunakan harus bebas dari kotoran. Winemaker
lebih memilih menggunakan gula pasir impor yang lebih putih warnanya agar
tidak mempengaruhi warna wine yang
dihasilkan.
3. Ragi
yang dipergunakan harus dalam kondisi aktif (dapat tumbuh dengan baik pada
media yang digunakan sebagai starter),
diuji dengan cara menginokulasi pada larutan gula 213 gram per liter air dan
diinkubasi selama 1 hari, bila terbentuk buih dan terjadi penurunan kadar gula
maka menunjukan ragi tersebut aktif dan dapat digunakan, apabila tidak aktif
maka menggunakan starter baru. Selain
itu ragi yang digunakan tidak tercemar mikroorganisme kontaminan lain sehingga
kondisi penyimpanannya setelah penggunaannya harus tepata (disimpan pada
kemasan tertutup rapat dan kondisi kering)
4. Air
yang dipergunakan dalam proses produksi harus memenuhi standar air minum yang
telah mengalami pengolahan terlebih dahulu. Karyawan bagian Quality Control tidak melakukan
pengujian kimiawi lebih lanjut tetapi hanya pengujian secara fisik dengan
mengamati warna, kejernihan, dan bau air. Air yang digunakan adalah air yang
tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau.
2.
Pengendalian
Mutu Selama Proses
Pengendalian mutu
selama proses dilakukan pada setiap tahap proses. Pengendalian mutu selama
proses bertujuan untuk mencegah serta menanggulangi apabila terdapat ketidaksempurnaan
pada salah satu tahap proses. Kegiatan pengendalian mutu selama proses pada
perusahaan wine CV. Kayubatu meliputi
:
1. Pemilihan
bahan baku dan bahan pembantu meliputi
proses sortasi.
2. Pengendalian
pada tahap fermentasi meliputi pengendalian suhu dijaga sekitar 22-24 °C.
pemeriksaan suhu dilakukan 1 hari sekali untuk mencegah peningkatan suhu karena
kerusakan alat.
3. Botol
yang dipergunakan untuk mengemas harus dalam keeadaan bersih dan kering dan
juga bebas debu.
3.
Pengendalian
Mutu Produk Akhir
Pengendalian
mutu produk akhir dilakukan dengan cara menguji secara organoleptik terhadap
rasa, aroma, warna wine sebelum
dilakukan pembotolan untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan memiliki
flavor yang dikehendaki dan tidak menyimpang. Pengujian ini dilakukan oleh
petugas Quality Control yang memahami
karakteristik dan kualitas wine. Kondisi
penyimpanan juga harus sesuai, yaitu pada suhu rendah (22°C) untuk mencegah
hilangnya flavor selama penyimpanan akibat fluktuasi suhu oleh karena itu
pemeriksaan suhu ruang penyimpanan dilakukan 1 hari sekali apabila terjadi
kenaikan suhu karena kerusakan alat pendingin (AC) pemilik akan segera
mengganti alat tersebut.
2.6. Pengolahan Limbah
Menurut Jenie (1993), limbah
industri pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung
sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa
bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan sehingga dapat
menimbulkan masalah dalam penanganannya. Limbah dapat membawa dampak negatif,
maka limbah tersebut harus mendapat penanganan yang bali. Efek samping dari
limbah dapat berupa :
1. Membahayakan
kesehaatan manusia karena limbah dapat berperan sebagai pembawa penyakit
seperti kolera, radang usus, dan hepatitis infektiosa.
2. Merugikan
dari segi ekonomi karena dapat merusak benda atau bangunan, peternakan,
pertanian, dan lain-lain.
3. Dapat
merusak/membunuh kehidupan didalam air seperti ikan, tanaman, dan juga binatang
peliharaan lainnya.
4. Dapat
merusak keindahan karena pemandangan yang tidak sedap untuk dilihat serta bau
busuk.
Penanganan
limbah pada perusahaan CV. Kayubatu meliputi :
1. Penanganan
Limbah Padat
Limbah padat dibedakan
menjadi dua, yaitu limbah padat anorganik dan organik. Limbah anorganik berupa
plastic pembungkus bahan pembantu dibuang dalam tempat pembuangan sampah.
Limbah organik seperti kulit, biji buah, ampas buah hasil pengepresan diolah
menjadi pupuk kompos dengan cara membuang limbah pada tempat yang disediakan
untuk membuat kompos, ditutup dengan plastic dan dibiarkan selama
berbulan-bulan hingga terbentuk kompos. Kompos ysng sudah jadi digunakan untuk
memupuk tanaman.
2. Penanganan
Limbah Cair
Limbah cair yang berupa
larutan detergen yang digunakan untuk pencucian, limbah penjernihan, air
pencuci peralatan dan bahan dibuang ke saluran air pembuangan yang tersedia
tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.
DAFTAR
PUSTAKA
Amerine,
M.A., H. W. Berg, M. V. Cruess. 1972. The Technology of Winemaking. Connecticut:
The AVI Publishing Company Inc.
Anonymous,
2008. Fermentasi Wine. http://ptp2007.wordpress.com/fermentasi-wine/.
Diakses pada tanggal 20 November 2012
Anonymous,
2012. Manfaat buah salak dan Kandungan
Gizi Buah Salak. http://www.kucoba.com/2012/02/manfaat-buah-salak-dan-kandungan-gizi.html.
Diakses tanggal 20 Maret 2013
Anonymous.
2009. Pembuatan Wine. http://lordbroken.wordpress.com/pembuatan-wine/.
Diakses pada tanggal 20 November 2012.
Anonymous,
2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses Filtrasi. http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2231949-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses/.
DiaksesTanggal 04 April 2013
Allen,
L.H., 2000. The American Journal of
Clinical Nutrition. http://www.ajcn.org/cgi/reprint/71/5/1280S.
Diakses pada tanggal 20 November 2012
Amerine,
et. al. 1987.Technology of Wine Making. Connecticut: The AVI
Publishing Co. Inc., Westport.
Bautista,
R., Esperenza, F., Elena, F. 2006. Effect
of The Contact with Fermentation-less or Commercial-less un The Volatole
Composition Of White Wines. J. Eur Food Res Technol 224:405-413.
Daulay,
D dan A. Rahman 1992. Teknologi
Fermentasi Sayuran dan Buah-Buahan. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor.
Fardiaz,
S. 1987. Fisiologi Fermentasi. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi, InstitutPertanian Bogor.
Filipov, A at all. 1994. Sieve Mechanism
of Microfiltration. Journal of membrane Science 89, 199 – 213
Frazier
W. C., Westhoff D. C. 1978. Food Microbiology.4th Edition. New York:
McGraw-Hill Book. Publishing. Co. Ltd.
Gekas, v dan B. Hallstrom. 1990. Microfiltration
Membranes, Cross-Flow Transport Mechanisms and Fouling Studies.
Desalination, 77, 195 - 218
Gupta,
A., Yan, S.D., 2006.Mineral Processing
Design And Operation.Perth, Australia.
Handoyo,
Y. (2007).Rahasia Wine. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Hotmaka,
O and H. Ebner. 1995. Vinegar by Submerge Oxidative Fermenta-tion. Ind.
Eng. Chem. 51:1279-1280.
Jennie,
B. S. L. dan P. R. Winiarti.1993.Penanganan
Limbah Industri Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, IPB.
Kartika,
B. 1991.Sanitasi Dalam Industri Pangan. Yogyakarta:
PAU Pangan dan Gizi, UGM.
Prescott
S. C., Dunn M. 1981.Industrial Microbiology. New York: Mc. Graw Hill
Book. Co. Ltd.
Reed,
Gerald. 1975. Enzymes in Food
Processing Second Edition. New York: Academic Press Inc.
Rahayu,
E. S. danKapti, R. 1987/1988. Teknologi
pengolahan Miniman Beralkohol. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Pangan
dan Gizi UGM.
Rayner,
T. 2007. Fining and Clarifying Agents. http://www.makewine.com/makewinw/fining.html.Diakses
pada tanggal 2 Fenruari 2013.
Sa’id,
E.G. 1987. Bioindustri,
PenerapanTeknologi Fermentasi. PAU. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono.Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta.
Soekarto,
T. 1990. Dasar-dasar Pengawasan dan
Standarisasi Mutu Pangan.Bogor: PAU Pangan dan Gizi, IPB.
Tjahjadi,
N. 1989.Bertanam Salak. Kanisius,
Yogyakarta.
Whitaker,
John R.Principles of Enzymology for the
Food Science, Second Edition. New York: Marcel DekkerInc.
No comments:
Post a Comment